Satuteks.com – Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) berhasil mengekspor 145.080 unit kendaraan utuh (CBU) sepanjang semester pertama 2026.
Angka ini menunjukkan kenaikan 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden TMMIN, Nandi Julyanto, menilai kinerja ekspor tersebut ditopang kuat oleh kolaborasi dengan lebih dari 760 pemasok lokal.
Kolaborasi ini mencakup industri kecil dan menengah (IKM), serta dukungan strategis dari pemerintah.
“Bersama-sama, seluruh elemen tersebut berperan dalam memperkuat daya saing industri otomotif nasional di tengah dinamika geopolitik global. Kami memastikan produk lokal mampu menjawab kebutuhan pasar global yang semakin kompetitif,” kata Nandi dalam keterangan tertulisnya, Senin, 27 Juli 2026.
TMMIN tercatat berkontribusi 57,6% dari total ekspor CBU nasional yang mencapai 251.705 unit pada paruh pertama tahun ini, menurut data Gaikindo.
Secara kumulatif, Toyota Indonesia telah mengapalkan 3.296.874 unit kendaraan ke lebih dari 100 negara sejak memulai ekspor pada tahun 1987 hingga semester I 2026.
Adapun kawasan Asia menjadi penyerap terbesar kendaraan produksi Toyota Indonesia dengan kontribusi 57,8% dari total ekspor.
Posisi berikutnya ditempati kawasan Amerika dengan 29,5% dan Timur Tengah sebesar 12%.
Selain kendaraan utuh, Toyota juga aktif mengirimkan berbagai komponen otomotif ke luar negeri.
Pengiriman ini meliputi suku cadang completely knocked down (CKD), komponen kendaraan, mesin utuh, komponen mesin, hingga alat pencetak (die).
Dari sisi model, Avanza dan Veloz menjadi kontributor ekspor terbesar dengan volume 32.571 unit selama Januari-Juni 2026.
Kemudian ada Raize sebanyak 26.082 unit dan Yaris Cross sejumlah 20.441 unit.
Di segmen kendaraan elektrifikasi, ekspor Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Kedua model tersebut mencatat ekspor 12.693 unit pada semester I 2026, naik 46,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Akumulasi pengiriman kedua model hybrid itu telah melampaui 62.906 unit ke berbagai negara sejak mulai diekspor pada 2023.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, I Nyoman Winaya Adnyana, menyatakan keberlanjutan ekspor bergantung pada kemampuan industri menyesuaikan diri terhadap perubahan kebutuhan pasar dan regulasi di berbagai negara.
Menurutnya, industri otomotif nasional perlu memperkuat pengembangan kendaraan rendah emisi untuk menjawab transisi energi global.
“Ke depan, kami akan terus memperluas penetrasi pasar, meningkatkan standar kualitas, serta memperkuat portofolio kendaraan berteknologi ramah lingkungan,” pungkas Nyoman.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





