Satuteks.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia telah memasuki fase El Nino kuat. Kondisi ini berpotensi menurunkan curah hujan dan meningkatkan ancaman kekeringan di berbagai wilayah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Indeks Nino 3.4 dasarian masih berada di angka +2,26 dengan Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2 sehingga menunjukkan El Nino berintensitas kuat yang masih berpotensi menguat sepanjang tahun ini.
“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” kata Teuku di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, fenomena tersebut menghambat pembentukan awan hujan sehingga kecenderungan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan semakin menguat.
Teuku menyampaikan BMKG memprioritaskan dua langkah utama untuk menghadapi dampak El Nino, yakni menjaga ketersediaan air melalui waduk serta mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, BMKG bersama sejumlah instansi akan melaksanakan operasi modifikasi cuaca di berbagai daerah untuk menambah cadangan air di waduk sekaligus membasahi lahan yang rawan terbakar.
“Pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan lain sebagainya juga untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar ini melalui modifikasi cuaca,” ujar dia.
Ia menjelaskan operasi modifikasi cuaca juga akan dilakukan secara berkala di enam provinsi yang selama ini menjadi fokus penanganan kebakaran hutan agar kondisi tanah, termasuk lahan gambut, tetap jenuh air.
“Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar,” ujar dia.
Sebagai konteks, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya memprediksi El Nino tahun 2026 akan lebih kuat dibandingkan fenomena pada 2023 dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sepanjang sejarah.
Profesor Riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menjelaskan pantauan satelit menunjukkan intensitas El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius atau melampaui puncak El Nino 2023 yang berada di angka 1,6 derajat Celsius.
“Kalau kita bicara dampak untuk kasus El Nino 2023 yang suhu maksimum intensitasnya hanya 1,6 (derajat Celsius), sekarang kedudukannya, posisinya El Nino saat ini dalam pantauan satelit itu sudah 1,74 (derajat Celsius),” kata Erma dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Minggu (26/7).
Menurut Erma, intensitas El Nino diperkirakan terus meningkat dan berpeluang melampaui ambang 2 derajat Celsius pada Agustus sehingga masuk kategori El Nino super yang sebelumnya hanya terjadi pada 1997 dan 2015.
“Sudah harus dipahami bahwa El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023,” ujar dia.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





