Satuteks.com – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti tajam minimnya faktor keselamatan dan keamanan sistem transportasi laut nasional di Tanah Air.
Penegasan ini disampaikan Puan menyusul maraknya insiden kecelakaan kapal, termasuk tragedi kebakaran KM Mutiara Sentosa II di Perairan Sumenep yang menelan lima korban jiwa.
Ia menyampaikan duka cita mendalam bagi para korban sekaligus menyebut insiden tragis ini sebagai alarm keras bagi dunia pelayaran Indonesia.
“Dukacita mendalam kami sampaikan kepada seluruh korban kecelakaan KM Mutiara Sentosa II. Insiden ini harus menjadi pengingat bahwa ternyata faktor keamanan transportasi laut di Indonesia masih minim,” kata Puan dalam keterangan resminya, Selasa (4/8/2026).
Tragedi kebakaran hebat yang menimpa KM Mutiara Sentosa II rute Surabaya–Makassar pada 2 Agustus lalu memicu kepanikan massal hingga membuat banyak penumpang melompat ke laut demi menyelamatkan diri.
Proses pencarian terus dilancarkan oleh tim SAR gabungan lantaran sejumlah penumpang diperkirakan masih hilang, sementara 233 korban telah berhasil dievakuasi selamat hingga Senin (3/8/2026).
Menurutnya, pemerintah kini tengah berjuang memvalidasi data penumpang akibat ditemukannya perbedaan tajam antara data manifes dan temuan lapangan.
Petugas kepolisian juga sedang mengusut dugaan kelalaian hingga manipulasi manifes dalam tragedi tenggelamnya KLM Nurul Salsa di Kepulauan Selayar pada 15 Juli lalu.
Dalam insiden KLM Nurul Salsa tersebut, sebanyak 58 orang ditemukan selamat, empat korban tewas, dan 14 penumpang lainnya masih dinyatakan hilang hingga hari kesembilan pencarian.
Kementerian Perhubungan disebutnya turut mengonfirmasi kesimpangsiuran manifes penumpang serta mendalami dugaan ketiadaan sekoci penyelamat pada KM Mutiara Sentosa II.
“Persoalan manifes kapal yang berbeda dengan penumpang yang ada di lapangan menjadi persoalan yang terus menerus kita temukan. Harus ada evaluasi mendalam mengenai persoalan ini,” tegas Puan.
Ia menilai rangkaian kecelakaan maritim ini membuktikan bahwa indikator keberhasilan transportasi laut belum menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama.
Gaya hidup bukanlah alasan warga memilih kapal laut, melainkan karena transportasi air menjadi satu-satunya urat nadi menuju akses kesehatan, pendidikan, hingga perekonomian di wilayah kepulauan.
Mantan Menko PMK itu menegaskan bahwa kelalaian keamanan tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengikis rasa aman rakyat dalam mengarungi wilayah perairan Indonesia.
Pemerintah diimbau untuk menetapkan target nasional penurunan angka kecelakaan pelayaran yang disertai dengan sistem evaluasi berkala dan terukur.
“Sistem transportasi bukan hanya untuk menghubungkan antarpulau, tetapi juga menjamin bahwa setiap perjalanan berlangsung dengan standar keselamatan yang memberikan rasa aman bagi seluruh rakyat,” tutur politikus perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR RI tersebut.
“Pelayanan transportasi laut yang layak, aman, dan nyaman, adalah hak masyarakat yang harus bisa diwujudkan oleh Negara,” pungkas Puan.
Rentetan insiden laut ini memperpanjang catatan kelam keselamatan pelayaran sepanjang tahun, mulai dari miringnya KM Dharma Kartika IX di Balikpapan pada 27 Januari akibat robohnya muatan truk yang menewaskan tiga orang, hingga kebakaran KM Anaya di Maluku pada 26 Maret akibat puntung rokok yang melukai lima ABK.
Kecelakaan lain juga mencakup tabrakan KM Sabuk Nusantara 106 di Banda Neira pada 28 April, tenggelamnya KM Mega Harapan akibat dihantam kapal besi di Labuan Mas, hingga insiden mati mesin kapal wisata KLM Eternity di Pulau Satonda pada 1 Agustus lalu.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





