Satuteks.com – Melissa Baines, seorang wanita asal Nova Scotia, Kanada, harus merelakan dirinya tidak bisa lagi mengonsumsi daging merah dan produk susu selamanya. Kondisi medis langka ini menimpanya setelah ia mendapat gigitan dari seekor kutu kecil di area rumahnya.
Menurutnya, diagnosis Alpha-gal syndrome resmi ia terima pada Mei lalu setelah tubuhnya menunjukkan reaksi alergi parah terhadap produk turunan mamalia.
“Saya sedang berada di kebun, mengerjakan bagian ini, lalu saya digigit. Saya kira itu lalat kuda,” kata Baines.
Gejala awal yang dirasakan Baines meliputi gangguan konsentrasi berat, rasa mual hebat, hingga kehilangan keseimbangan tubuh.
Reaksi fisik tersebut dinilai semakin memburuk saat ia mencoba mengonsumsi produk susu hingga memicu ruam bentol dan penderitaan fisik.
Kondisi darurat tersebut akhirnya memaksa Baines memanggil ambulans guna mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit setempat.
“Kalau saya menunggu satu atau dua hari lagi, Tuhan tahu apa yang akan terjadi,” kata Baines.
Penyebab utama dari alergi langka ini diidentifikasi sebagai gigitan lone star tick atau kutu bintang tunggal (Amblyomma americanum).
Kutu betina ini dikenal memiliki ciri khas berupa bercak putih menyerupai bintang pada bagian punggungnya.
Saat menjalani perawatan, ia menceritakan bahwa seorang pria juga pernah menemukan spesies kutu serupa yang merayap di area halamannya.
“Saat dilihat, dia sangat terkejut karena berkata, ‘Ada titik putih di atasnya.’ Dia mengambilnya, membunuhnya, dan membuangnya. Dia tidak terpikir untuk menyimpannya,” kata Baines.
Pasca-kejadian trauma tersebut, ia mengaku tidak berani lagi menginjakkan kaki di area kebun rumahnya.
Perubahan pola makan secara total kini wajib dijalankan oleh Baines dengan menghindari seluruh produk daging dan olahan susu.
Keputusan untuk menyemprotkan pestisida di area halaman rumahnya juga belum diambil oleh Baines hingga saat ini.
Langkah tersebut dihindari karena ia khawatir paparan bahan kimia dapat membahayakan keselamatan kucing peliharaan serta populasi satwa liar.
Sebagai informasi konteks, spesies kutu bintang tunggal ini dikonfirmasi tidak bersifat endemik di Indonesia.
Habitat asli dari populasi kutu ini sebagian besar tersebar di kawasan hutan lebat wilayah timur Amerika Serikat dan Meksiko.
Meskipun ancaman kutu ini tidak berada di Indonesia, kewaspadaan terhadap risiko gigitan jenis serangga lain tetap perlu ditingkatkan guna mencegah reaksi alergi serius.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





