DeepSeek Kenalkan V4-Flash, Model AI Berbiaya Rendah dengan Efisiensi Tinggi

- Editorial Team

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sebuah layar ponsel menampilkan AI DeepSeek. (Foto: Pexels)

Ilustrasi sebuah layar ponsel menampilkan AI DeepSeek. (Foto: Pexels)

Satuteks.com – Startup kecerdasan artifisial (AI) asal China, DeepSeek, memperkenalkan model terbaru bernama V4-Flash yang menawarkan biaya operasional jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah model AI populer.

Perusahaan mengklaim V4-Flash memiliki efisiensi biaya yang sangat tinggi. Bahkan, biaya operasionalnya disebut lebih dari 100 kali lebih murah dibandingkan Claude Fable 5 milik Anthropic.

Data dari lembaga riset Artificial Analysis menunjukkan rata-rata biaya penggunaan V4-Flash hanya sekitar 3 sen dolar AS untuk setiap pengujian.

Sebagai perbandingan, Claude Fable 5 membutuhkan biaya rata-rata sekitar US$3,15 per pengujian. Selisih tersebut membuat V4-Flash menjadi salah satu model AI dengan biaya operasional paling rendah.

DeepSeek merilis V4-Flash secara resmi pada Jumat (31/7). Peluncuran ini menjadi langkah terbaru perusahaan untuk kembali menarik perhatian pasar melalui model AI yang mengedepankan efisiensi biaya.

Untuk penggunaan layanan, DeepSeek menetapkan tarif sebesar US$0,14 per satu juta token masukan dan US$0,28 per satu juta token keluaran.

Token merupakan satuan data yang digunakan untuk menghitung konsumsi layanan pada sistem kecerdasan artifisial.

Artificial Analysis juga membandingkan biaya rata-rata sejumlah model AI lainnya. Kimi K3 besutan Moonshot AI tercatat membutuhkan sekitar 86 sen dolar AS per pengujian.

Sementara itu, GPT-5.6 Sol milik OpenAI memerlukan biaya rata-rata US$1,86 untuk setiap pengujian. Adapun Claude Fable 5 masih menjadi salah satu model dengan biaya tertinggi, yakni US$3,15.

Artificial Analysis menilai pendekatan perbandingan berdasarkan biaya rata-rata per pengujian lebih mencerminkan kondisi penggunaan sebenarnya dibandingkan hanya mengacu pada harga per token.

Pasalnya, model yang menawarkan tarif token lebih murah tetap dapat menghasilkan biaya penggunaan lebih tinggi apabila memerlukan lebih banyak tahapan pemrosesan, data masukan, maupun keluaran untuk menyelesaikan tugas.

Meski unggul dalam efisiensi biaya, kemampuan V4-Flash masih berada di bawah sejumlah model AI papan atas.

Mengutip Reuters, Artificial Analysis memberikan nilai 50 dari 100 kepada V4-Flash dalam Intelligence Index.

Penilaian tersebut berasal dari gabungan sembilan pengujian yang mengukur kemampuan pemrograman, penalaran, hingga penyelesaian pekerjaan bergaya perkantoran.

Skor V4-Flash tercatat setara dengan Gemini 3.6 Flash milik Google.

Model terbaru DeepSeek itu hanya terpaut satu poin dari Muse Spark 1.1 buatan Meta serta GLM-5.2 yang dikembangkan Z.AI atau Zhipu.

Di sisi lain, Kimi K3 memperoleh nilai lebih tinggi, yakni 57.

Claude Opus 5, Claude Fable 5, dan GPT-5.6 juga mencatatkan skor setidaknya sembilan poin di atas V4-Flash.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan utama V4-Flash berada pada efisiensi biaya operasional, bukan pada capaian performa tertinggi.

Sebelumnya, DeepSeek sempat menjadi sorotan dalam industri AI China setelah model R1 menarik perhatian dunia pada awal 2025.

Popularitas R1 kala itu turut memicu penurunan saham sejumlah perusahaan teknologi sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai besarnya investasi perusahaan Amerika Serikat dalam pembangunan infrastruktur AI.

Setelah itu, persaingan di pasar AI China semakin ketat dengan hadirnya berbagai pengembang baru.

Beberapa pesaing DeepSeek meliputi Moonshot, MiniMax, Z.AI, ByteDance, hingga Alibaba.

Perusahaan-perusahaan tersebut bersaing dengan pengembang AI asal Amerika Serikat untuk menarik pengguna global, khususnya perusahaan yang membutuhkan solusi AI dengan biaya lebih efisien dalam skala besar.

Selain menghadirkan V4-Flash, DeepSeek juga tengah menyiapkan model baru bernama V4-Pro yang diklaim memiliki kemampuan lebih tinggi.

Meski demikian, perusahaan hingga kini belum mengumumkan jadwal peluncuran resmi untuk V4-Pro.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Alibaba juga memperkenalkan Qwen3.8-Max sebagai model AI terbesar dan paling canggih yang pernah dikembangkan perusahaan tersebut.

☕ Traktir Kopi

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.

❤ Beri Dukungan

Baca Juga

Realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Kamera 200MP dan Baterai 7.000 mAh
Robot Humanoid Lawan Manusia di Ring, REK Siapkan Teknologi Pertarungan VR
Jangan Salah Pilih! Ini Perbedaan Nyata Layar IPS LCD dan AMOLED
Elon Musk Prediksi Bisnis AI SpaceX Bisa Menghasilkan US$500 Miliar per Tahun
Taiwan Deteksi Serangan Siber Berbasis AI Sasar Lembaga Pemerintah
Bocoran Xiaomi 18 Pro Dan Xiaomi 18 Pro Max
Honor Resmi Merilis Robot Phone Berfitur Kamera Gimbal Mekanis Tiga Sumbu
YouTube Resmi Ubah Aturan dan Syarat Monetisasi
Tag :

Baca Juga

Selasa, 22 September 2026 - 11:03 WIB

Realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Kamera 200MP dan Baterai 7.000 mAh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:50 WIB

Jangan Salah Pilih! Ini Perbedaan Nyata Layar IPS LCD dan AMOLED

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:50 WIB

Elon Musk Prediksi Bisnis AI SpaceX Bisa Menghasilkan US$500 Miliar per Tahun

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Taiwan Deteksi Serangan Siber Berbasis AI Sasar Lembaga Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Bocoran Xiaomi 18 Pro Dan Xiaomi 18 Pro Max

Berita Terbaru

Ilustrasi petugas Bea Cukai memeriksa kontainer. (Dok. Bea Cukai)

Nasional

Bea Cukai Tindak Barang Impor Ilegal Senilai Rp27,339 Miliar

Selasa, 22 Sep 2026 - 10:57 WIB