Pembersihan Ranjau Selat Hormuz Butuh Waktu Berbulan-bulan

- Editorial Team

Senin, 29 Juni 2026 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kapal kargo melewati Selat Hormuz. (AI)

Ilustrasi kapal kargo melewati Selat Hormuz. (AI)

Satuteks.com – CEO NYK Line Jepang Takaya Soga mengungkapkan bahwa proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz memerlukan waktu yang cukup lama.

Pemulihan jalur navigasi ke kondisi normal seperti sebelum perang diprediksi memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Ia menjelaskan hal tersebut dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Financial Times. Menurutnya, pembersihan area perairan dari ancaman peledak menjadi syarat mutlak sebelum aktivitas pelayaran aman sepenuhnya.

“Jalur yang tersedia untuk navigasi sangat terbatas, yakni berupa koridor yang sangat sempit,” kata Soga kepada surat kabar tersebut saat menjelaskan kondisi terkini di Selat Hormuz, Senin (29/6/2026).

Soga menilai keterbatasan ruang gerak ini otomatis menghambat kelancaran arus logistik global yang melewati kawasan tersebut. Keterbatasan jalur itu disebutnya membuat pemulihan total tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.

Lebih lanjut, ia menegaskan situasi di lapangan saat ini masih sangat jauh dari kondisi ideal sebelum penutupan jalur terjadi.

Berdasarkan laporan media tersebut, kapal-kapal yang melintas sekarang hanya memiliki dua pilihan rute yang aman.

Satu rute pelayaran berada di dekat Pulau Larak yang berbatasan langsung dengan wilayah pantai Iran. Sementara itu, opsi jalur kedua terletak di sebelah selatan yang posisinya lebih dekat dengan wilayah Oman.

Kondisi geografis dan pembatasan rute ini dinilai mempersempit ruang gerak kapal-kapal kargo berukuran besar. Akibatnya, penumpukan atau perlambatan arus distribusi barang dinilai tidak dapat dihindari.

Soga memproyeksikan kapasitas operasional pelayaran akan merosot tajam selama masa pemulihan berlangsung. Arus lalu lintas kapal diprediksi tidak akan mampu menampung volume perdagangan secara maksimal.

Kawasan Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan vital internasional yang sempat ditutup akibat ketegangan perang.

Latar belakang konflik inilah yang menyisakan risiko ranjau laut di sepanjang koridor pelayaran utama.

“Kita berbicara tentang volume kurang dari setengah volume normal untuk sementara waktu, bahkan jika kita bisa masuk dan keluar dengan benar,” tutup Soga.

☕ Traktir Kopi

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.

❤ Beri Dukungan

Baca Juga

Pemimpin RSF Sudan Divonis Mati atas Kejahatan Perang dan Genosida di Darfur Barat
Hakim di India Diteror Kelompok Penjaga Sapi Gegara Pidanakan 14 Pelaku Kriminal
Hujan Lebat di Bangladesh Tewaskan 51 Orang, 1 Juta Warga Terdampak
Iran Tegaskan Tetap Kendalikan Selat Hormuz
Rusia Klaim Tembak Jatuh 138 Drone Ukraina dalam Sehari
Gelombang Panas Ekstrem Eropa Telan Korban 10 Ribu Jiwa
Trump Perintahkan JD Vance Lanjutkan Negosiasi AS dan Iran di Oman
Rusia Sebut Serangan Presisi Tinggi Hantam Pabrik Militer Ukraina di Kiev

Baca Juga

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:54 WIB

Pemimpin RSF Sudan Divonis Mati atas Kejahatan Perang dan Genosida di Darfur Barat

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:47 WIB

Hakim di India Diteror Kelompok Penjaga Sapi Gegara Pidanakan 14 Pelaku Kriminal

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:27 WIB

Iran Tegaskan Tetap Kendalikan Selat Hormuz

Senin, 13 Juli 2026 - 15:14 WIB

Rusia Klaim Tembak Jatuh 138 Drone Ukraina dalam Sehari

Senin, 13 Juli 2026 - 15:08 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Telan Korban 10 Ribu Jiwa

Berita Terbaru

Ilustrasi phising. (Foto: Pexels)

Teknologi

Mengenal Apa itu Phishing dan Cara Ampuh Menghindari Link Palsu

Selasa, 14 Jul 2026 - 06:10 WIB

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini. (Dok. Kemenpar)

Nasional

Kemenpar Perkuat Promosi Pariwisata Jakarta di Pasar Tiongkok

Selasa, 14 Jul 2026 - 06:02 WIB