Satuteks.com – Pemerintah Iran mengonfirmasi fasilitas Bandara Bushehr di wilayah barat daya negara tersebut tidak dapat beroperasi kembali setelah terkena serangan militer Amerika Serikat.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh Juru Bicaranya, Fatemeh Mohajerani, usai melakukan peninjauan langsung ke lokasi infrastruktur penerbangan tersebut.
“Kami melihat puing-puing pesawat yang telah direkondisi dan dibeli untuk melayani masyarakat, namun pesawat itu hancur akibat hantaman langsung rudal, sehingga hanya menyisakan sebagian kecil pada bagian ekornya yang masih utuh,” ujar Mohajerani dalam konferensi pers, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, hantaman amunisi tersebut mengakibatkan operasional penerbangan di lokasi itu mengalami kelumpuhan total.
Ia menambahkan, rincian mengenai waktu pasti penyerangan serta tingkat kerusakan fasilitas lainnya belum dapat dipublikasikan secara mendalam.
Di sisi lain, informasi mengenai jatuhnya korban jiwa dalam insiden di kawasan tersebut juga belum dirilis oleh otoritas terkait.
Pengakuan resmi ini mengemuka setelah kondisi keamanan di wilayah Timur Tengah mulai mereda sejak Jumat (24/7/2026).
Penurunan tensi militer tersebut terjadi lantaran Teheran dan Washington sepakat menghentikan gempuran usai perseteruan sengit selama 13 hari sejak 11 Juli 2026.
Konflik bersenjata tersebut diwarnai oleh aksi AS yang melancarkan gelombang serangan udara ke wilayah Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menargetkan aset militer Washington di negara tetangga.
Perselisihan kedua negara tersebut berpusat pada perebutan kendali Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi global.
Pihak Washington menuntut kebebasan navigasi kapal di perairan strategis tersebut tanpa adanya rintangan.
Sementara itu, pihak Teheran menilai kelancaran laluan kapal di area pantai mereka harus tunduk pada mekanisme pengawasan mandiri Iran.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





