Satuteks.com – Harga minyak dunia kembali naik ke level US$100 per barel pada Selasa (22/9/2026), saat pasar mencermati peluang pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Pertemuan keduanya berpeluang berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini.
Menurut laporan Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 22 sen atau 0,22% menjadi US$100,57 per barel pada pukul 00.21 GMT atau 07.21 WIB.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober yang berakhir pada Selasa juga bergerak naik tipis 2 sen atau 0,02% menjadi US$95,8 per barel.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menjelaskan, penguatan Brent dan WTI lebih mencerminkan pemulihan setelah aksi penutupan posisi jual atau short-covering akibat tren penurunan harga sebelumnya.
Waterer menilai pergerakan tersebut belum didorong perubahan fundamental di pasar minyak.
“Para pedagang yang sebelumnya mengambil posisi untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut kini mengurangi sebagian risiko mereka sambil menunggu perkembangan narasi diplomatik,” ujar Tim Waterer dikutip Reuters.
Menurut Waterer, harga minyak diperkirakan tetap bergerak fluktuatif selama pasar belum memperoleh kepastian mengenai perkembangan hubungan diplomatik AS dan Iran.
Ia menyebut pemberitaan mengenai proses diplomasi kedua negara masih menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan harga minyak sangat sensitif.
Potensi pertemuan Trump dan Pezeshkian muncul setelah Trump menyatakan terbuka untuk bertatap muka dengan Presiden Iran tersebut.
Sementara itu, Al Jazeera yang mengutip pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei melaporkan Teheran telah menyampaikan sejumlah persyaratan kepada pihak mediator untuk kembali ke meja perundingan pada akhir pekan lalu.
Di luar faktor diplomasi, Tim Waterer menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar minyak.
Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan kembali menyerang sejumlah sasaran di Riyadh serta fasilitas kilang Saudi Aramco di Yanbu.
Kelompok tersebut juga dilaporkan berupaya menghambat akses pasukan yang mendapat dukungan Arab Saudi dari kawasan pantai Laut Merah.
China kemudian disebut diam-diam meminta Iran membantu meredam serangan Houthi setelah Arab Saudi menyampaikan permintaan bantuan secara langsung.
Rentetan serangan tersebut dilaporkan turut berdampak pada fasilitas East-West Pipeline sehingga pengiriman minyak dari kilang Yanbu harus dihentikan sebagian.
Saudi Aramco selanjutnya meningkatkan pengiriman minyak melalui jalur Selat Hormuz.
Berdasarkan data pelacakan kapal tanker, Saudi Aramco disebut telah memuat sekitar 14 juta barel minyak mentah ke tujuh kapal supertanker di perairan Teluk pada Minggu lalu.
Di Libya, Chairman National Oil Corp (NOC) Massoud Suleman pada Senin menyatakan produksi ladang minyak Sharara mengalami penurunan secara parsial.
Suleman menyebut pihaknya belum merinci penyebab pasti gangguan produksi tersebut.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





