Satuteks.com – Ketua Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma menaruh perhatian mendalam atas musibah banjir dahsyat yang menerjang wilayah India timur laut.
Ia mengungkapkan duka cita mendalam setelah melayat keluarga korban tewas akibat bencana alam terburuk dalam beberapa tahun terakhir tersebut.
Menurutnya, musibah ini telah merenggut nyawa puluhan warga yang berusaha menyelamatkan diri maupun orang terdekat mereka.
“Tidak ada orang tua yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada anak mereka,” tulis Himanta Biswa Sarma melalui unggahan video saat menghibur orang tua korban tewas, Jumat (8/8/2026).
Sementara itu, Menteri Kesehatan India J.P. Nadda menyampaikan bahwa kerusakan akibat air bah di kawasan tersebut sangat parah.
“Desa demi desa telah terendam,” kata J.P. Nadda saat meninjau lokasi bencana, Kamis (6/8/2026).
Ia menambahkan, proses pemulihan kawasan terdampak akan memakan waktu yang cukup lama.
Menurut data resmi, setidaknya 97 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana yang dipicu oleh luapan sungai ini.
Bencana ini tercatat telah merugikan hampir 170.000 warga yang bermukim di negara bagian Assam.
Ribuan penduduk setempat terpaksa mengungsi ke tempat aman karena rumah dan lahan pertanian mereka terendam air lumpur.
Air bah bahkan tercatat menenggelamkan kawasan pertanian dengan luas lebih dari 14.000 hektar.
Kondisi terparah melanda Distrik Sivasagar yang memperlihatkan deretan rumah setengah terendam, pohon tumbang, hingga kendaraan tertimbun lumpur.
Menurut para ahli, frekuensi dan keparahan bencana ini meningkat pesat akibat kombinasi perubahan iklim serta pembangunan yang tidak terencana.
Di sisi lain, warga dan pejabat setempat menilai praktik penambangan batubara ilegal di negara bagian Nagaland turut memperburuk dampak banjir.
Aktivitas tambang ilegal tersebut dinilai memicu luapan air hingga merendam wilayah-wilayah yang secara historis terbebas dari rawan banjir.
Adapun banjir di wilayah Assam sebenarnya merupakan fenomena tahunan yang kerap terjadi selama musim hujan periode Juni hingga September.
Luapan Sungai Brahmaputra beserta anak-anak sungainya menjadi pemicu utama yang rutin merendam permukiman warga setiap tahun.
Kelompok advokasi Climate Trends menyebutkan bahwa pemanasan global dan dinamika sungai membuat pola bencana di kawasan tersebut makin kompleks.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





