Satuteks.com – Badan Penjaga Perbatasan Negara Lithuania menemukan 12 terowongan bawah tanah yang digunakan para migran untuk masuk secara ilegal dari wilayah Belarus.
Kemunculan jalur rahasia sepanjang 25 meter ini dinilai sebagai taktik baru untuk menembus pagar perbatasan yang kini makin diperketat.
Menurut Komandan Badan Penjaga Perbatasan Negara Lithuania, Jenderal Rustamas Liubajevas, pihaknya memanfaatkan sistem seismik darat canggih guna memantau setiap getaran intensif di dalam tanah. Petugas penjaga keamanan langsung membekuk para penyusup begitu mereka keluar dari lubang galian.
“Ketika para migran keluar, kami menangkap mereka,” ujar Rustamas Liubajevas kepada DW di Vilnius, Lithuania.
Ia menjelaskan, sebanyak 40 migran ilegal telah diamankan dari pengoperasian jalur bawah tanah tersebut.
Di sisi lain, Kantor Kejaksaan Lithuania mengonfirmasi bahwa penyelidikan awal tengah berjalan terhadap 20 orang yang diduga merancang galian ilegal serta terlibat jaringan penyelundupan manusia.
Liubajevas menilai, kerumitan struktur galian mengindikasikan adanya dukungan logistik dari otoritas Belarus untuk menyuplai material seperti kayu penyangga.
Langkah ini disebutnya sebagai upaya Minsk untuk terus memelihara ketegangan di area perbatasan.
Meski Presiden Belarus Alexander Lukashenko membantah keterlibatan negaranya, temuan terowongan serupa rupanya juga terdeteksi di Polandia.
Direktur Institute of International Relations and Political Science Vilnius University, Margarita Seselgyte, menduga Belarus sengaja membiarkan aktivitas penggalian itu sebagai bentuk serangan hibrida.
Menurutnya, tindakan Minsk bertujuan menciptakan kepanikan publik serta menggoyahkan persatuan negara-negara Eropa dalam mendukung Ukraina.
Sementara itu, CEO Geopolitics and Security Studies Center, Linas Kojala, menyebut fenomena ini sebagai fase baru dari aksi pengumpanan migran yang telah terjadi sejak 2021.
Ia memperkirakan aksi penggalangan migrasi ilegal ini tidak akan berhenti selama pihak Belarus tidak menutup celah dari wilayah mereka sendiri.
Di sisi lain, Analis Migration Research Institute, Robert Gonzci, mengungkapkan bahwa manipulasi arus migrasi merupakan instrumen politik berbiaya murah yang kerap dipakai rezim otoriter sejak era kuno.
Ia menambahkan, strategi hibrida yang dilancarkan Belarus dan Rusia ini dirancang untuk memecah fokus negara-negara Barat dari agenda geopolitik yang lebih besar.
Guna memperkuat benteng pertahanan, Lithuania kini menjalin kerja sama teknis dengan negara-negara tetangga di kawasan Baltik dan Nordik.
“Kami sedang menguji peralatan pemindai dari Polandia yang dapat mengidentifikasi ruang kosong di bawah tanah,” tutup Liubajevas.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





