Satuteks.com – Wakil Ketua Banggar DPR RI, Syarief Abdullah Alkadrie menilai Batam memiliki berbagai keunggulan strategis yang menjadikannya sangat berpotensi sebagai pusat investasi nasional.
Batam dinilai mampu menjadi motor penggerak utama dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Ia menjelaskan, status sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) merupakan modal kuat untuk memacu laju industri global. Langkah tersebut dirasa krusial agar penanaman modal dan volume ekspor nasional dapat terus meningkat tajam.
“Sejak awal pemerintah menetapkan Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) yang diharapkan menjadi motor penggerak investasi, ekspor, industri, dan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Syarief saat memimpin Delegasi Kunjungan Kerja Banggar DPR RI ke BP Batam di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (3/7/2026).
Lebih lanjut, Syarief mengingatkan bahwa posisi Batam kini dihadapkan pada tantangan persaingan yang semakin ketat dengan kawasan ekonomi lain di Asia Tenggara. Wilayah tersebut bersaing langsung dengan Johor-Singapore Special Economic Zone, Vietnam, Thailand, hingga Malaysia.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa modernisasi sistem logistik serta peningkatan kapasitas pelabuhan lokal harus terus dijadikan prioritas utama.
Menurutnya, inovasi digital pada sektor layanan publik juga wajib diakselerasi agar daya saing kawasan tetap unggul.
“Batam perlu penguatan kapasitas pelabuhan, modernisasi sistem logistik, digitalisasi pelayanan, serta integrasi kawasan industri dan pelabuhan harus terus menjadi prioritas,” tegas legislator Fraksi Partai NasDem tersebut.
Pada kesempatan yang sama, manajemen BP Batam menyatakan komitmen penuh untuk membangun wilayah ini menjadi hub ekonomi digital regional yang kompetitif.
Konsep pembangunan tersebut diklaim akan berjalan secara berkelanjutan demi menarik minat investor internasional.
Pihak lembaga mengonfirmasi bahwa mereka telah mengalokasikan anggaran jumbo sebesar Rp2,4 triliun untuk mendukung visi besar tersebut. Dana operasional ini disebut murni bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Manajemen merinci sebesar 65% dari total anggaran tersebut dialokasikan khusus untuk membiayai sektor belanja publik secara berkala. Sementara itu, porsi sebesar 35% sisanya dimanfaatkan untuk menyokong program strategis, termasuk akselerasi pembangunan infrastruktur fisik.
Di sisi lain, Anggota Banggar DPR RI Sugeng Suparwoto memberikan catatan mengenai urgensi pembangunan fasilitas penyimpanan komoditas LPG dan LNG. Infrastruktur energi tersebut dinilai sangat krusial untuk memperkokoh posisi Batam sebagai hub strategis.
Menurutnya, ketersediaan tangki penyimpanan berskala besar tersebut efektif berfungsi sebagai cadangan penyangga pasokan energi nasional. Langkah taktis ini disebut mampu menjaga stabilitas pemenuhan daya dalam negeri dari gangguan eksternal.
Sementara itu, Anggota Banggar DPR RI Kamrussamad berpendapat bahwa pemerintah memerlukan berbagai terobosan kebijakan yang berani dan inovatif. Strategi matang ini dianggap mendesak untuk menghalau ancaman deindustrialisasi dini serta jebakan pendapatan menengah.
Kawasan Batam dinilai memegang peranan geopolitik dan ekonomi yang sangat krusial dalam rantai perdagangan jalur internasional. Letak geografisnya yang berada di jalur pelayaran global, basis manufaktur yang kokoh, serta konektivitas logistik prima menjadi daya tawar utama.
“Batam memiliki peran yang signifikan untuk mencapai tujuan tersebut. Karena itu, Batam harus menjadi lokomotif dalam mendorong peningkatan kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB),” pungkas Kamrussamad.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





