Satuteks.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari menegaskan komitmen kuat untuk memperkokoh keandalan sistem kelistrikan nasional.
Pemerintah tak ingin gangguan pemadaman massal di Sistem Jawa-Bali tidak terulang lagi pada masa mendatang.
Ia menjelaskan, penguatan ini dilakukan dengan memacu pasokan energi primer serta meningkatkan kesiapan operasional setiap pembangkit. Menurutnya, percepatan transisi energi juga menjadi fokus utama pemerintah saat ini.
“Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menginstruksikan PT PLN untuk memastikan ketersediaan energi primer sesuai jumlah dan spesifikasi yang dibutuhkan, memperkuat pengelolaan rantai pasok, meningkatkan kesiapan operasi sistem, serta mempercepat penyelesaian pemeliharaan pembangkit utama,” kata Qodari dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Qodari memaparkan, instruksi tersebut dinilai efektif mempercepat pemulihan sistem kelistrikan di Pulau Jawa pascagangguan.
Upaya ini disebutnya mampu mempererat koordinasi antarpemangku kepentingan demi menjaga stabilitas pasokan setrum.
Ia menambahkan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM sebelumnya telah mengumpulkan seluruh badan usaha pembangkitan pada 25 Juni 2026. Pertemuan yang melibatkan PLN Group dan Independent Power Producer (IPP) ini bertujuan mempertegas komitmen keandalan operasional di Sistem Jawa-Bali.
Menurutnya, pengawasan ketat dan mitigasi risiko komprehensif bakal terus diterapkan di seluruh lini rantai pasok energi primer. Sektor ini meliputi rencana pemeliharaan pembangkit hingga kesiapan cadangan energi nasional.
“Pemerintah akan terus memperkuat pengawasan dan mitigasi risiko di seluruh rantai pasok energi primer, mulai dari perencanaan pemeliharaan pembangkit, kesiapan cadangan energi, hingga koordinasi operasional antarpemangku kepentingan, agar kondisi serupa dapat dicegah sedini mungkin dan masyarakat tetap mendapatkan layanan listrik yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya.
Qodari memaparkan, ekspansi infrastruktur juga disiapkan lewat penambahan kapasitas pembangkit baru. Proyeksi strategis ini telah tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034.
Ia menilai, target penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW) menjadi pilar penting kemandirian energi. Sebanyak 42,6 GW atau sekitar 61% dari target tersebut dialokasikan dari energi baru terbarukan (EBT).
Menurutnya, integrasi sistem penyimpanan energi modern seperti baterai dan PLTA pumped storage ikut digenjot. Teknologi penyimpan daya ini diproyeksikan menyumbang kapasitas hingga 10,3 GW atau berkisar 15%.
“Sementara pembangkit fosil sebesar 16,6 GW atau 24% akan didominasi pembangkit berbahan bakar gas untuk menjaga fleksibilitas dan keandalan sistem,” tutup Qodari.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





